6 Mitos Salah Kaprah Tentang Android yang Sering Beredar

Lawatek.com – Penggunaan Android semakin merajalela di berbagai kalangan masyarakat. Bagaimana tidak, saat ini banyak sekali varian merk merk smartphone dengan harga yang terjangkau menarik minat semua orang untuk menggunakan Android. Ditambah lagi, dengan menggunakan Android orang bisa menggunakan berbagai macam apps untuk berbagai macam keperluan seperti sosial media, office, game, atau sekedar untuk foto-foto selfie. Diluar maraknya penggunaan Android, ternyata ada beberapa mitos yang sering beredar di masyarakat.

Mitos ini bisa jadi benar bisa jadi tidak, tapi yang jelas sangat terkenal. Apa saja mitos yang beredar tersebut? Lawatek akan mengulas satu persatu tentang mitos-mitos tersebut. Berikut ini adalah 10 mitos salah kaprah tentang Android yang sering beredar di masyarakat.

Menggunakan AntiVirus Supaya Aman dari Virus atau Malware

Apakah Android membutuhkan Anti Virus? Hal ini sudah menjadi perdebatan yang umum di berbagai forum. Apalagi di Play Store cukup banyak apps Anti Virus yang dapat didownload. Sebenarnya, Google melalui Play Store nya telah memiliki sistem keamanan yang dapat dikatakan cukup baik. Ketika Developer mengupload apps buatan mereka, Google pasti sudah memeriksa apakah apps mengandung malware atau tidak. Lain cerita ketika Anda menginstall APK secara manual tidak melalui Play Store. Bisa jadi APK yang Anda install mengandung malware, jadi Anda harus berhati-hati dalam menginstall APK.

Disisi lain, Android sendiri sebenarnya sudah tahan terhadap virus. Hal ini karena Android tidak jauh berbeda dengan Linux yang memiliki tingkat keamanan yang baik. Android juga memiliki user “root” yang biasanya di lock oleh vendor smartphone Android. Jika Android Anda sudah di root, maka Anda sebaiknya lebih berhati-hati jika menginstall APK karena proses install dijalankan sebagai root, bukan sebagai user biasa yang beresiko pada keamanan Android Anda.

Menggunakan Task Killer atau Task Manager untuk Merefresh RAM

Sejak versi Jelly Bean, Android telah dilengkapi task killer bawaan untuk mengosongkan RAM sehingga RAM yang awalnya penuh menjadi lebih lega. Bahkan di Play Store pun banyak sekali apps yang berfungsi sebagai task killer. Sebenarnya penggunaan task killer ini masih menjadi perdebatan. Ada smartphone yang membutuhkan task killer dan ada juga yang tidak. Lho kok bisa?

Task killer optimal jika Android yang kita gunakan banyak membuka aplikasi di satu waktu sehingga dengan menggunakan task killer ini RAM dapat kita kosongkan kembali dengan cepat. Jika Anda hanya membuka satu atau dua aplikasi saja, nampaknya task killer tidak akan terlalu berguna.

android task killer

Task Killer di Android

Perlu diketahui juga penggunaan task killer juga akan memakan RAM. Jika RAM Anda hanya 512 – 1 GB, sebaiknya tidak menggunakan task killer (atau gunakan task killer bawaan saja). Sebab dengan RAM yang pas-pasan seperti itu, menggunakan task killer pihak ketiga hanya akan memperberat kinerja Android Anda.

Meng-Kalibrasi Baterai untuk Menambah Umur Baterai

Banyak orang berpikir bahwa meng-kalibrasi baterai bisa menambah umur baterai. Hal ini sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat. Kembali lagi ke tujuan kalibrasi, yaitu untuk membuat persentase baterai yang tampil menjadi lebih akurat, maka ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan umur baterai. Jika ingin menambah umur baterai, yang harus dilakukan adalah memperbaiki kebiasaan meng-charge baterai yang tidak tepat, misalnya mengecharge dan mencabut charge sebelum baterai benar-benar penuh.

Di sisi lain, sering-sering mengkalibrasi baterai malah akan mempercepat kerusakan baterai. Harusnya kita sadari bahwa baterai juga memiliki lifetime yang berbeda-beda.

Semakin Tinggi Hasil Benchmark, Smartphone Semakin Baik

Hal ini mungkin benar, tapi tidak selamanya benar, kenapa? Dari banyak aplikasi benchmark yang beredar memiliki hasil yang berbeda-beda satu sama lain untuk device yang sama. Aplikasi yang terinstall juga bisa jadi berbeda dari device-device tersebut. Artinya kita tidak harus selamanya terpaku terhadap hasil bechmark. Ketika kita membandingkan smartphone yang pertama dilihat adalah dari sisi hardwarenya. Android dengan spesifikasi hardware lebih tinggi sudah pasti akan memiliki performa yang lebih baik. Tetapi ini juga tergantung dengan penggunaan kita, dan aplikasi apa saja yang terinstall di dalam smartphone Android.

Android dengan Processor Quad-Core Lebih Cepat dari Dual-Core

Saat ini banyak merk smartphone yang menawarkan Android dengan processor dual-core, quad-core bahkan sampai octa-core. Pertanyaannya adalah, benarkah kita membutuhkan device sampai Octa-core?

Dalam penggunaan smartphone normal, paling-paling yang dipakai hanya satu atau dua core. Misalnya ketika kita membuka whatsapp, tentunya tidak semua core processor dijalankan. Semua core akan bekerja jika kita menjalankan aplikasi yang berat misalnya game 3D. Artinya, jika kita bukan maniak game, quad-core – dual-core saja sudah cukup, dan perbedaannya kinerja Android ketika menjalankan aplikasi juga tidak berbeda jauh. Malah yang membuat perbedaan besar adalah di RAM nya. Jika RAM hanya 1 GB, ya harap maklum kalau agak lambat membuka aplikasi.

Wipe Stat Baterai untuk Memperpanjang Umur Baterai

Wipe Stat biasanya dilakukan setelah melakukan flashing supaya statistik yang tersimpan di reset. Hal ini jelas tidak ada hubungannya dengan memperpanjang umur baterai. Wipe stat hanya menghapus statistik supaya ketika menggunakan ROM atau OS yang baru, statistik nya dimulai dari awal lagi untuk menghindari terjadinya crash pada sistem karena ada kemungkinan baterai tidak dapat dicharge sampai 100 persen lagi.

Itulah 6 mitos tentang Android yang banyak beredar. Jika Anda memiliki mitos lain dapat share juga melalui komentar. Kami juga membuka masukan jika terdapat info yang kurang tepat.

Semoga bermanfaat.

Seorang programmer, developer dan desainer. Pernah mengembangkan aplikasi baik di desktop, mobile, maupun web. Tertarik dengan perkembangan IT terkini. Saat ini menulis di Lawatek dan Azuharu ~ Another Dream